Posts Tagged With: Rute Sikunir

Spot Sunrise viewing Ter-favorit

Spot Sunrise viewing Ter-favorit di Dataran Tinggi Dieng :

  1. Gunung Sikunir
  2. Gardu Pandang Tieng
  3. Candi Arjuna
  4. Gunung Perau
  5. Bukit Sikendil
  6. Gunung Pakuwojo

Gunung Sikunir tidak bisa dilepaskan dari Dataran Tinggi Dieng. Seolah satu paket perjalanan, tidak akan lengkap perjalanan kita ke Dieng tanpa menunggu matahari terbit di puncak gunung ini.

Gunung Sikunir terletak di Desa Sembungan, Kejajar, Wonosobo. Jarak tempuh dari Dieng menuju kaki Gunung Sikunir sekitar 30-45 menit. Anda bisa pilih alat transportasi yang paling sesuai untuk Anda: sewa mobil atau sewa angkot.

Tidak akan ada banyak yang bisa dilihat-lihat sepanjang perjalanan Dieng-Sikunir; itupun jika Anda berangkat dari Dieng. Pemandangan di awal pagi itu akan didominasi dengan kabut-kabut yang turun ke tanah. Kegelapan masih punya ruang banyak di bumi. Dingin juga masih sangat merajalela.

Jalan raya sudah baik dan beraspal. Hanya saja, perjalanan Anda akan banyak kelokan. Kalau kabut sedang tipis, di kiri-kanan jalan akan kelihatan kebun carica (buah khas Dieng yang serupa pepaya), kol, kentang, dan cabe. Semuanya adalah tanaman andalan Dataran Tinggi Dieng.

Pertanda yang baik adalah ketika kita sampai kaki Gunung Sikunir hari masih gelap. Artinya, masih ada waktu santai untuk mendaki Sikunir sampai ke puncaknya. Karena itu, agar matahari terbit bisa terkejar, berangkatlah paling lambat sekali pukul 4.30 dari Dieng.

Perjalanan bermobil berakhir di Telaga Cebong. Dari sini, kita harus mendaki Gunung Sikunir yang berketinggian 2.350 mdpl. Di kaki gunung, kita akan dimintai sumbangan Rp2.000/orang, semacam biaya masuk ke Sikunir.

Jarak tempuh sekitar 1 km. Hati-hati, karena kita harus mendaki di pagi buta dengan kiri atau kanan curam. Walaupun rute pendakian tidak terlalu sulit (karena sudah ada jalan setapak yang tegas, di beberapa titik bahkan sudah ada conblock), kita masih tetap harus bersiap diri. Gunakan sepatu/sendal gunung, jaket yang bisa menghangatkan, sarung tangan, senter, topi wol/kupluk, dan jangan lupakan air minum.

Jika perjalanan lancar, kita akan bisa sampai dalam 30 menit. Jangan kaget kalau ternyata sudah banyak orang lain di puncak tersebut, lengkap dengan kamera besar-besar dan lensa yang macam-macam. Puncak Gunung Sikunir memang sudah menjadi tujuan melihat matahari terbit favorit di Wonosobo. Banyak orang yang sengaja datang untuk memotret keindahan matahari terbit yang sudah digadang-gadang sebagai “golden sunrise”.

Freezing moment adalah ketika sedikit demi sedikit semburat cahaya matahari muncul dari entah berantah. Lalu, Gunung Sindoro akan kelihatan gagah di kejauhan. Kemudian, menyusul Gunung Sumbing, jika kabut tidak terlalu tebal. Bahkan, kalau Anda sangat beruntung, Gunung Merbabu dan Merapi akan turut kelihatan. Betapa anggun mereka dari puncak Sikunir.

Ketika proses indah ini terjadi di depan mata, kemungkinan keramaian orang-orang yang berebutan spot motret paling bagus jadi tidak ada artinya. Ketika golden sunrise sudah di depan mata, silakan dinikmati sepuas-puasnya. Jangan terlalu sibuk dengan urusan potret-memotret. Sebab, Puncak Sikunir itu salah satu tempat yang sengaja membiarkan Anda berhadapan satu lawan satu dengan matahari. Jadi, jangan disia-siakan.

Categories: Artikel | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Bangunnya Sang Mentari di Sikunir Dieng

Udara yang begitu dingin hingga menusuk tulang dan tidak sedikit anggota tubuh yang menjadi kaku karenanya. Suhu udara yang mencapai 13 derajat Celsius membuat saya dan sahabat traveling saya Rieke begitu sulit untuk membuka mata pagi itu. Akan tetapi, keinginan kuat untuk bertemu sang surya di atas awan mengalahkan rasa dingin yang menusuk. Ditambah suara berisik dari empat orang wisatawan asing yang menginap di samping kamar yang bersiap untuk melakukan pendakian demi menikmati hangatnya sinar matahari di atas Gunung Sikunir.

Sikunir,gunung yang terletak di Dataran Tinggi Dieng ini memang kurang dikenal dibandingkan dengan gunung lainnya di Pulau Jawa seperti: Gunung Merapi, Semeru ataupun Bromo. Ketinggian yang mencapai 2350 meter dpl menjadikan tempat ini sebagai salah satu lokasi sunrise terbaik di Pulau Jawa.

Perjalanan dari tempat kami menginap membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk berjalan kaki menuju kaki Gunung Sikunir. Karena waktu itu sudah pukul 04.30 maka untuk mengejar sunrise akhirnya kami pun memutuskan untuk naik motor. Tidak hanya berdua akhirnya kami ditemani oleh Pak Biyanto, sebut saja Pak Bee. Beliau adalah warga setempat yang bersedia menemani kami mendaki Gunung Sikunir.

Perjalanan 8 km dengan motor yang menembus udara subuh itu begitu dingin, hingga jemari tangan pun ikut keram dibuatnya. Untuk menuju kaki gunung kita akan melewati Telaga Warna, Kawah Sikidang dan Telaga Cebong. Ketika sampai di pos pemberhentian, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Lokasi itu sangat gelap karena tidak ada penerangan lampu di kawasan tersebut. Cahaya yang membantu langkah kaki hanyalah cahaya senter, bulan dan jutaan bintang di atas langit.

Selama awal pendakian kami disuguhkan dengan ladang yang berisi tanaman kentang. Dimana dataran tinggi ini memang terkenal sebagai penghasil sayuran. Selepas itu jalan menanjak mulai kami lalui, diawali dengan jalan yang semaki sempit dan kontur yang menanjak. Selama pendakian dibutuhkan konsentrasi yang cukup baik, karena ketika mendaki salah satu sisi adalah jurang yang cukup dalam. Perjalanan menanjak dengan banyaknya batuan menjadikan rute ini licin ketika hujan turun.

Setelah berjalan kurang lebih satu jam akirnya kami sampai di puncak gunung Sikunir. Ketika itu kami adalah pendaki pertama yang sampai disana. Tidak lama berselang datang rombongan lain yang juga ingin menikmati sunrise di gunung ini. Sesaat setelah sampai di puncak gunung jajaran awan membentang luas bagaikan lautan gumpalan gas yang berjalan dengan anggunnya. Inilah yang membuat kami seperti berada di negeri awan.

Ketika pukul 05.30 sedikit demi sedikit udara menghangat akibat pancaran sinar matahari yang terbit. Sedikit demi sedikit pula cahaya merah mulai tampak dari ufuk timur. Terus menaik dengan anggunnya menjadikan lautan awan yang tadinya berwarna kelabu menjadi jingga kemerahan. Begitu indahnya melihat sang surya terbit di atas lautan awan yang di kelilingi oleh beberapa gunung. Dari puncak ini terlihat puncak Merapi yang terlihat miring akibat letusan tahun 2010 silam. Tidak hanya itu, Sindoro, Merbabu, dan Gunung Ungaran pun nampak begitu kokoh berdiri menatap sang surya.

Dada yang terasa sesak dan nafas yang terengah-engah serta rasa lelah kaki selama pendakian pun terbayar dengan menikmati bangunnya sang surya di atas negeri awan.

Categories: Artikel | Tags: , , , , , , , , | 2 Komentar

Blog pada WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.